Postingan

#11

Sampai detik ini, rasanya masih banyak kata yang tercekat di ujung lidahku. Ingin kuutarakan namun percuma. Rasa-rasanya kau tak kan peduli. Kau tak ingin lagi mendengar. Surel yang terakhir kukirim pun hanya berakhir dengan pengabaian. Aku mencurahkan apa saja yang sekiranya kupendam, dengan bahasa yang sepertinya sulit dimengerti, bahkan olehku sendiri. Perasaanku padamu saat ini terlampau rumit hingga aku tak menemukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Intinya aku masih rindu kamu, sangat. Tapi aku takut kita berdua lagi-lagi nantinya hanya akan menyakiti satu sama lain. Aku dengan ego dan emosiku; kau dengan bayang-bayang masa lalumu yang membuatku merasa bahwa aku hanya pelarianmu semata, bahkan setelah satu tahun lamanya. Perihal kesibukanmu yang menyita waktu, itu tak pernah kupermasalahkan lagi. Aku sekarang pandai mencari kesibukanku sendiri. Hanya satu hal itu saja yang masih tak bisa kuterima; kau yang masih dibayangi masa lalumu. Jujur sampai saat ini aku masi...

Balada Cinta di Usia Duapuluh Tiga

Di usiaku yang kian dewasa ini, aku belajar bahwa menjalin hubungan tidak cukup dengan hanya saling sayang.  Aku sayang kamu; kamu sayang aku; lantas kita jadian. Nggak.  Gak segampang itu.  Aku belajar bahwa ternyata ada banyak hal di  samping itu yang mesti dikompromikan.  Tentang bagaimana kita saling bicara.  Bagaimana kita menyampaikan isi hati dan kepala. Percuma kita saling sayang tapi pada satu sama lain kita tak saling paham. Aku sangat lelah jika seumur hidupku habis hanya untuk menerjemahkan. 

Gimana Ya, Caranya Biar Gak Jadi Si Socially Awkward?

DISCLAIMER: Tips ini kutulis berdasarkan pengalamanku yang aku rasa cukup ampuh di diriku. Aku tidak menjamin bahwa ini akan bekerja dengan sama baiknya jika diterapkan oleh orang lain, karena setiap orang memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Kembali lagi, apapun masalahnya, jika dirasa benar-benar mengganggu dan tak dapat kau atasi sendiri, segera minta bantuan profesional, ya! :) Ada gak sih, dari kalian yang gak berani buat ke Alfamart, McDonalds , ke toko-toko perbelanjaan, gara-gara gak bisa ngomong sama kasirnya? "HAAAH??!!! Masa gitu doang gak bisa? Seriusan beneran ada?" Reaksi pertama kalian ketika membaca kalimat awal tulisanku pasti seperti itu. Jawabannya, ya. Ada. Mereka takut berinteraksi dengan orang-orang yang mereka temui di tempat umum, salah satunya kasir. Apa yang ditakutkan? Macam-macam. Takut gagap. Takut pas order pesanan di McDonalds suaranya kaya tikus kegencet terus dijudge ini-itu sama kasirnya. Takut pas ngeluarin uang, uangnya be...

#10 — Ruang Tunggu

Apa yang kau harapkan dari seseorang yang kau temui di ruang tunggu? Bukankah sudah jelas, dari nama tempatnya saja cukup menjelaskan bahwa ada seseorang yang begitu ia nanti kedatangannya? Begitu seseorang itu datang, ia akan menyambutnya, menggandengnya dan lantas mereka pulang. Tinggallah kau sendiri. Tapi sebentar..  kau sendiri, apa yang menuntunmu ke ruangan ini?  Bukankah kau ada di sini karena kau pun mempunyai seseorang yang kau tunggu?  Atau bahkan peranmu menjadi seseorang yang kedatangannya ditunggu, dan kau mencari seseorang yang hendak menjemputmu? Bukan begitu?  Akan sangat menggembirakan jika kenyataannya begitu.  Mungkin kau hanya perlu mencari sekali lagi di setiap sudut ruangan—seseorang yang menunggumu pulang. Semoga berhasil! Terima kasih telah berkenan menjadi teman berbincang.  Aku dan dia pamit pulang. 

#8 — Infinite Loop

Rasanya sudah lama aku tidak berbicara denganmu seperti ini. Selama sepekan ini, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan. Yang sebenarnya juga mungkin kau sudah tahu. Kau ingat saat aku bercerita tentang interview pertamaku yang nyaris saja kukacaukan kemarin? Aku bahagia bukan main saat kau datang menyapa dan bersedia memasang kuping. Aku bahagia bukan main menyambutmu singgah kembali walau sebentar. Ada banyak hal yang ingin ku sampaikan, mengingat kesempatan untuk berbicara denganmu rasa-rasanya sama langkanya dengan kesempatan bisa makan di Ayam Cipo. Ada banyak kata yang berebutan minta diutarakan, minta dikeluarkan dari hati dan kepala, namun ujung-ujungnya aku hanya bisa berkata, "jangan lupa bahagia!" Ya gapapa sih. Seperti yang ku bilang di instagram saat itu, pada dasarnya inti dari semua do'aku adalah hanya ingin kau bahagia. Cukup itu yang kau dengar, sejatinya. Besoknya aku kembali menghubungimu saking girangnya aku mendapat kabar baik. Ternyata Mbak HRD-nya b...

#7 — Tipe-ex

Yang ku takutkan selama ini ternyata benar, Bang. Ternyata aku hanya berlari. Ternyata aku tak benar-benar menginginkannya—si rumah dengan perapian dan cokelat panas yang ku ceritakan tempo hari. Bukan, aku bukan menyukainya. Aku BERUSAHA menyukainya, agar dapat melupakan perasaanku padamu. Nyatanya rasa ini masih utuh untukmu, Bang. Aku harap kau tak membaca tulisanku ini karena aku ingin kau hanya melihatku yang terus berpura-pura. Berpura-pura sudah lupa; berpura-pura sudah tak cinta. Dulu, jaman kita masih sekolah, jika ada kesalahan saat menulis, kita bisa menghapusnya menggunakan tipe-ex. Padahal alat itu sama sekali tidak menghapus. Ia hanya menutup, menambal, agar tulisan yang salah tak lagi terlihat. Aku merasa, masih mencintaimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang nantinya ku takutkan akan membuatmu benar-benar pergi. Maka dari itu, sebisa mungkin ku tutupi dengan kedok "berteman" agar sekadar bertegur sapa denganku, kau masih tetap nyaman. Maafkan aku yang masi...

#6 — Jangan sampai dia dengar.

Sini! Kemarilah! Aku akan membisikkanmu sesuatu. Tapi janji ya, jangan beri tahu siapa-siapa. Janji? Ini mungkin akan sedikit mengejutkan tapi baiklah, akan ku katakan. Aku sedang menyukai seseorang. Hei, suaraku tidak terlalu keras, 'kan? Aku takut dia dengar. Apa? Kau penasaran siapa dia? Hmm.. Kau tahu karakter Spongebob? Si kuning yang selalu bersemangat dan tertawa seolah tak pernah ada masalah yang berarti di hidupnya. Mungkin itu penggambaran pertama yang dapat ku sematkan padanya. Bedanya, dia tidak berwarna kuning. Ya. Dia orang yang selalu bersemangat, dan yang ku sukai darinya, dia selalu menularkan semangat itu pada orang-orang di sekitarnya—termasuk aku yang pada saat itu dunianya gelap selepas hatiku patah. Dia orang yang punya banyak cinta pada genggamannya, dan selalu dengan sukarela membagikannya dengan tulus pada siapapun yang membutuhkannya—termasuk aku. Aku taksir, mungkin dia pun sama seperti Spongebob; selalu mengawali hari dengan "Aku siap! Aku siap!...