Postingan

Gimana ceritanya keterima di Zeni? [Part 2]

Nah terakhir kan gue cerita kalo gue dapet email tuh? Pas gue cek emailnya, ternyata pemberitahuan dari Kalibbr kalo HR Zenius melanjutkan proses perekrutan atas lamaran yang gue kirim ke tahap selanjutnya. Seneng banget kan tuh gue! Oh ya, btw pas itu gue nemu lowongan Zenius tuh di Kalibbr. Gue ngelamar posisi Tutor Fisika. So buat kalian yang pengen ngelamar ke Zenius coba cari di Kalibbr aja. InsyaAllah bakal selalu mejeng di situ kok lokernya. Karena Zeni tuh selalu butuh SDM secara tiba-tiba, mendesak wkwk. Jadi ga ada tuh istilah "Oh kita udah cukup orang, ga butuh SDM lagi" Jadi rajin-rajin aja buka Kalibbr ya, hehe. Nah intinya, gue di-invite buat ngobrol-ngobrol dikit via WhatsApp Call sama HR-nya. Kalo ga salah pas itu HR-nya ga nyebutin istilah wawancara, cuma ngobrol doang. Singkat cerita selang beberapa hari gue ditelpon. Sumpah itu gue gugup banget, udah ga jelas gue ngomong apa karena jujur itu pertama kalinya gue interview(>////<) Semua kalimat-kalimat ...

Gimana ceritanya keterima di Zeni? [Part 1]

Woah, udah lama bgt nih gue ga update! Ya walaupun selama ini gue cuma update curhatan-curhatan galau doang sih haha. Eits! Tapi kali ini beda. Gue mau share dikit tentang pelamaan gue nyari kerjaan sampe akhirnya keterima di salah satu edtech terpopuler di Indonesia, Zenius Education . So, gue mau jujur-jujuran aja guys. Jadi gue tuh termasuk (mantan) mahasiswa yang telat lulus. Waktu studi gue kebilang cukup lama. Yang harusnya selesai 4 tahun, gue perlu waktu menyelesaikan itu sampai 5 setengah tahun:) Gue masuk kuliah tahun 2014 dan dinyatakan lulus dari S1 Fisika IPB Januari 2020, hehe. Alesannya? Entahlah, males kali ya? Hehe. Jangan ditiru ya. Gue bukan males belajar atau jalanin penelitian. Gue seneng bgt belajar, ngulik ini-itu. Tapi... Gue males banget nulis! Apalagi kalo formatnya diatur-atur kek skripsi. Bagi gue itu ribet haha. Jadilah gue lulusnya lama dan banyak bgt dramanya sampe akhirnya gue bisa lulus tuh. Singkat cerita gue lulus, siap nyari kerja, eh pandemi si a***...

Rumah.

Hai. Sudah lama sekali rasanya aku tak menulis surat untukmu. Sampai-sampai, rasanya aku lupa bagaimana menyusun kata dan memilih diksi yang tepat agar isi hati dan pikiranku dapat kau baca dengan nyaman. Aku memilih untuk tidak menulis lagi dalam beberapa waktu terakhir, karena kupikir semua rasa yang berkecamuk cukuplah kupendam dan kukubur dalam-dalam. Banyak rasa, banyak kata, banyak tanya yang ingin kuutarakan, namun sudahlah. Kenyataan memaksaku untuk menerima dan melepaskan. Di surat kali ini pun, tak banyak yang ingin kukatakan. Aku hanya ingin sekadar menyapa barangkali kau pikir aku sudah lupa dan menaruh hati pada orang lain yang berbeda. Padahal, ya mana bisa?  Aku tahu, sudah tak seharusnya lagi aku membiarkan perasaan ini tetap ada. Namun ternyata aku tak lebih dari seorang anak yang mainannya direbut. Padahal nyatanya tak ada yang merebut. Aku melepasnya dan ketika seseorang mengambilnya, aku menginginkannya kembali. Bodoh. Aku yang bodoh. Terlepas dari kebodohan yan...

#11

Sampai detik ini, rasanya masih banyak kata yang tercekat di ujung lidahku. Ingin kuutarakan namun percuma. Rasa-rasanya kau tak kan peduli. Kau tak ingin lagi mendengar. Surel yang terakhir kukirim pun hanya berakhir dengan pengabaian. Aku mencurahkan apa saja yang sekiranya kupendam, dengan bahasa yang sepertinya sulit dimengerti, bahkan olehku sendiri. Perasaanku padamu saat ini terlampau rumit hingga aku tak menemukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Intinya aku masih rindu kamu, sangat. Tapi aku takut kita berdua lagi-lagi nantinya hanya akan menyakiti satu sama lain. Aku dengan ego dan emosiku; kau dengan bayang-bayang masa lalumu yang membuatku merasa bahwa aku hanya pelarianmu semata, bahkan setelah satu tahun lamanya. Perihal kesibukanmu yang menyita waktu, itu tak pernah kupermasalahkan lagi. Aku sekarang pandai mencari kesibukanku sendiri. Hanya satu hal itu saja yang masih tak bisa kuterima; kau yang masih dibayangi masa lalumu. Jujur sampai saat ini aku masi...

Balada Cinta di Usia Duapuluh Tiga

Di usiaku yang kian dewasa ini, aku belajar bahwa menjalin hubungan tidak cukup dengan hanya saling sayang.  Aku sayang kamu; kamu sayang aku; lantas kita jadian. Nggak.  Gak segampang itu.  Aku belajar bahwa ternyata ada banyak hal di  samping itu yang mesti dikompromikan.  Tentang bagaimana kita saling bicara.  Bagaimana kita menyampaikan isi hati dan kepala. Percuma kita saling sayang tapi pada satu sama lain kita tak saling paham. Aku sangat lelah jika seumur hidupku habis hanya untuk menerjemahkan. 

Gimana Ya, Caranya Biar Gak Jadi Si Socially Awkward?

DISCLAIMER: Tips ini kutulis berdasarkan pengalamanku yang aku rasa cukup ampuh di diriku. Aku tidak menjamin bahwa ini akan bekerja dengan sama baiknya jika diterapkan oleh orang lain, karena setiap orang memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Kembali lagi, apapun masalahnya, jika dirasa benar-benar mengganggu dan tak dapat kau atasi sendiri, segera minta bantuan profesional, ya! :) Ada gak sih, dari kalian yang gak berani buat ke Alfamart, McDonalds , ke toko-toko perbelanjaan, gara-gara gak bisa ngomong sama kasirnya? "HAAAH??!!! Masa gitu doang gak bisa? Seriusan beneran ada?" Reaksi pertama kalian ketika membaca kalimat awal tulisanku pasti seperti itu. Jawabannya, ya. Ada. Mereka takut berinteraksi dengan orang-orang yang mereka temui di tempat umum, salah satunya kasir. Apa yang ditakutkan? Macam-macam. Takut gagap. Takut pas order pesanan di McDonalds suaranya kaya tikus kegencet terus dijudge ini-itu sama kasirnya. Takut pas ngeluarin uang, uangnya be...

#10 — Ruang Tunggu

Apa yang kau harapkan dari seseorang yang kau temui di ruang tunggu? Bukankah sudah jelas, dari nama tempatnya saja cukup menjelaskan bahwa ada seseorang yang begitu ia nanti kedatangannya? Begitu seseorang itu datang, ia akan menyambutnya, menggandengnya dan lantas mereka pulang. Tinggallah kau sendiri. Tapi sebentar..  kau sendiri, apa yang menuntunmu ke ruangan ini?  Bukankah kau ada di sini karena kau pun mempunyai seseorang yang kau tunggu?  Atau bahkan peranmu menjadi seseorang yang kedatangannya ditunggu, dan kau mencari seseorang yang hendak menjemputmu? Bukan begitu?  Akan sangat menggembirakan jika kenyataannya begitu.  Mungkin kau hanya perlu mencari sekali lagi di setiap sudut ruangan—seseorang yang menunggumu pulang. Semoga berhasil! Terima kasih telah berkenan menjadi teman berbincang.  Aku dan dia pamit pulang.